Selasa, 02 September 2014

Kelahiranku

16 Juni 1994 

Tanggal kelahiranku ..
Aku lahir dari seorang wanita berparas cantik, berkulit putih, badannya tinggi semampai, hidungnya mancung, rambutnya kemerah-merahan dan bergelombang. Wajar saja karena wanita yang kupanggil "Mama" ini masih ada keturunan Belanda. Entah bagaimana kisah leluhurku, yang aku pernah dengar dari cerita keluarga adalah kami masih ada kaitan darah dengan orang Belanda. Suatu kewajaran yang lain adalah negeri kami (tepatnya kampung halaman mamaku, Saparua) pernah dijajah oleh bangsa Belanda. 
 
Mama melahirkanku di sebuah kota bernama Saumlaki. Saumlaki adalah tanah kelahiranku. Saumlaki juga adalah negeri papa-ku, yang menjadi ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, yang termasuk wilayah Provinsi Maluku. Saat mama melahirkanku, papa tidak ada disamping mama karena papa sedang kuliah sambil kerja. Papa-ku adalah seorang mahasiswa di Universitas Pattimura Ambon dan mengambil jurusan Biologi. Papa-ku seorang pria dengan rupa yang tampan, tampan hati dan wajahnya. Saat mendekati bulan kesembilan untuk mama melahirkan, papa menyuruh mama ke Saumlaki dan tinggal bersama oma (almarhumah), opa, dan adik-adik-nya papa yang masih berada di sekolah menengah.
 
Kata keluargaku, aku lahir normal hanya saja saat aku lahir aku tampak kebiruan dan bahkan tak menangis seperti bayi-bayi yang baru lahir di dunia. Tentu saja keluarga khawatir dan cemas kepada kondisiku, apalagi mama yang masih dalam keadaan lemah setelah melahirkanku. Dari yang kudengar, opa-ku berdoa di ruang keluarga sedangkan salah satu tante-ku berdoa didalam kamarnya. Saat mereka berdoa dan menangis, suatu mujizat Tuhan yang kuakui didalam hidupku sampai saat ini, bayi perempuan itu (Aku) menangis. Sukacita besar hadir di dalam rumah keluarga besar kami, rumah oma dan opa-ku. Bahagia dirasakan oleh tiap keluargaku. Aku si bayi kecil, menangis. Aku cucu perempuan pertama dari keluarga besar mama dan papa-ku. Aku cucu pertama dari kedua pasangan oma dan opa-ku, yang di Saumlaki dan di Mahu, Saparua. Papa-ku segera dikabari oleh mereka. Tentu saja papa juga bahagia. Anak perempuannya lahir, anak dari wanita yang dicintainya, dan anak yang ditunggunya. 

Mereka memberiku nama, 

                              Eva Maria Keljombar 

Nama yang menjadi nama baptisku. Nama yang terdiri dari dua wanita yang terberkati. Eva (Hawa) adalah wanita pertama yang diciptakan Tuhan dari tulang rusuk suaminya, Adam. Sedangkan Maria adalah wanita yang melahirkan Yesus, Tuhan kami. Jadi namaku berarti, "Wanita pertama dan terakhir yang diberkati Tuhan." Nama Eva juga adalah nama seorang adik papa-ku yang baru berumur 2 tahun tapi meninggal. Kalau aku tidak salah menghitungnya kami berdua berjarak 14 tahun. Dia lahir pada tanggal 1 Juni. Bulan yang sama denganku. Entah tahun berapa aku melupakannya. 
Selain nama baptisku, aku punya nama dalam adat Tanimbar, adat daerah papa-ku yang berasal dari nama oma-ku.
Aku juga diberi nama Lifia oleh oma-ku. Karena oma (almarhumah) lebih menyukai memanggilku dengan nama itu. Katanya nama Lifia adalah nama gabungan oma, Sofia; dan nama gabungan dari nenek buyutku (dari keluarga mama), namanya Korneli.

Kata mama, kata papa, kata keluargaku, dan kata mereka tetanggaku, aku lahir dengan paras yang cantik. Mataku berbinar-binar cerah, mataku bulat tapi cipit, bibirku kemerahan, ada rambut halus yang tumbuh dikepalaku, rambut hitam sedikit kemerahan, kulitku putih bersih tanpa ada satu titik noda pun yang menempel dikulitku. Katanya, aku mirip orang Cina. Satu lagi kewajaran, kata mama ada nenek-nenek mama yakni leluhurku yang berkebangsaan Cina, seingatku nama mereka di kampung halaman mama itu Ci-pan-ci dan Ci-tan-ci. 

Kelahiranku didunia sungguh suatu mujizat Tuhan, karya terbesar Tuhan dalam hidup kedua orang tuaku, dan keluarga besarku. 

Apapun dan bagaimana jalan dan proses dari mama dan papa sehingga akhirnya aku lahir, aku percaya itu tak lepas dari campur tangan Tuhan atas hidupku. Sejak awal ibuku mengandungku, aku sudah diberkati. Bahkan hingga nanti aku menua dan kembali ketanah aku tetap diberkati.
 
                                                                          *** 

"Tuhan memberi pilihan yang tepat untuk hidupku, seperti hadir ditengah-tengah keluarga ini." Eva

Tidak ada komentar:

Posting Komentar